Fans PSG
Fans PSG

Hikayat Ultras PSG yang Di Cap Kriminal Oleh Kota Paris

Diposting pada

Hikayat Ultras PSG yang Di Cap Kriminal Oleh Kota Paris – Dukungan dari Ultras yang berisik dan fanatik sempat dimatikan oleh kota Paris selama enam tahun.

Kembali ke masa-masa indah sebelum tahun 2010,  halaman stadion Parc des Princes begitu hidup. Nyanyian yang memekakkan telinga menderu-deru di seluruh stadion saat kabut asap dari nyala flare memenuhi setiap sudut lapangan.

Tidak seperti di Inggris, di mana klub hanya memiliki satu fanbase, PSG memiliki dua kubu suporter yang berlainan ideologi!

Suporter atau Ultras pertama datang dari The Kop of Boulogne (KoB), basis penggemar yang berideologi sayap kanan (Ultra-nasionalis, anti imigran). Di sisi lain ada Virage Auteuil, rumah bagi penggemar yang berhaluan kiri secara politik (Sosialis).

Kedua kelompok suporter ini selalu bernyanyi dengan semangat sepanjang pertandingan, menunjukan kecintaan mereka kepada PSG meskipun tetap bersaing atas nama ideologi politik.

Pada era kejayaan ini, perkelahian dan keributan sering terjadi di antara para suporter (KoB vs Virage Auteuil) dan bahkan menimbulkan banyak korban dengan luka serius.

Kecintaan mereka kepada PSG seolah tidak cukup untuk mencegah benturan antar kedua basis Ultras ini yang memperjuangkan ideologi masing-masing, meskipun dengan jalan kekerasan.

Hikayat Ultras PSG yang Di Cap Kriminal

Hikayat Ultras PSG yang Di Cap Kriminal
Foto: Indian Express

Pada akhirnya Ultras PSG sering menghadapi kenyataan bahwa mereka dilarang datang ke stadion untuk memberi dukungan klub kesayangan antara tahun 2010 sampai 2016. Enam tahun penindasan, diterapkan oleh pemerintah kota Paris bahkan pihak PSG sendiri.

Dilansir dari Lequipe, pada tahun 2010 sebuah rencana yang disebut “Reploux Plan” diterapkan. Sesuai nama presiden klub pada saat itu, Robin Leproux, tujuan dari rencana ini adalah untuk menertibkan penonton pada hari pertandingan dengan cara mengusir 12.000 Ultras PSG dari stadion.

Pendekatan tegas ini tetap dilakukan alih-alih berkomunikasi dengan pihak Ultras dan mendamaikan perbedaan di antara mereka. Sejumlah tuntutan hukum diikuti dan diajukan oleh fans atas tindakan yang tidak adil dari pemerintah kota dan manajemen klub.

Setiap akhir pekan, ribuan Ultras PSG akan berkumpul di luar stadion Parc des Princes, menyanyikan dan mendemonstrasikan dukungan mereka. Tidak berhenti sampai di situ, aksi Ultras ini berlanjut dengan pergi dan mendukung tim wanita PSG.

Dengan ukuran stadion yang lebih kecil dan kurangnya pengawasan, banyak oknum ultras sering memanjat pagar besi yang mengelilingi lapangan dan bersorak meneriakan dukungan.

Titik terang tidak kunjung datang bahkan saat PSG di akuisi pada 2011 oleh Qatar Sports Investment. Dengan kepemilikan baru yang ingin memproyeksikan citra merek global yang positif, manajemen merasa tidak perlu mencabut Reploux Plan.

Namun dari banyaknya pemain bintang yang dimiliki PSG, nama Blaise Matuidi dan Edinson Cavani mencuat di kalangan Ultras. Kedua pemain ini menyadari pentingnya kehadiran suporter di klub untuk menciptakan hubungan emosional yang bisa mereka bangun dengan tim pada saat PSG berusaha mencapai level yang lebih tinggi.

Tidak lama kemudian komunikasi secara formal antara klub dan pihak Ultras mulai terjalin. Akhirnya setelah banyak negosiasi, Ultras diizinkan kembali ke stadion untuk pertama kalinya pada 2016 dengan wadah baru bernama Paris Ultras Collective (PUC).

PUC dibentuk untuk menyatukan dan mengorganisir kelompok Ultras yang sebelumnya berselisih pandang. Sejak saat itu, Parc des Princes kembali bergemuruh dipenuhi lautan semangat yang membara dari kelompok Ultras paling fanatik di Paris.

Itu artikel Hikayat Ultras PSG yang Di Cap Kriminal!

Gambar Gravatar
Fino Alla Fine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *